Iman kepada Qada dan Qadar

Iman kepada Qada dan Qadar


A. Pengertian Iman kepada Qada dan Qadar

Kata Qada menurut bahasa artinya memutuskan perkara baik dengan ucapan maupun perbuatan. Sedangkan kata qadar artinya ukuran. Biasanya kata qada dan qadar dalam percakapan sehari-hari selalu diucapkan bersama-sama.

Qada adalah keputusan atau ketetapan suatu rencana dari Allah swt untuk dilaksanakan. Sedangkan Qadar adalah rencana yang telah diberlakukan Allah sejak zaman azali, baik yang sudah, sedang maupun yang akan terjadi terhadap makhluk Nya. Qada dan Qadar biasa juga disebut dengan istilah takdir.

Jadi iman kepada takdir artinya yakin akan adanya ketetapan atau ketentuan Allah yang berlaku terhadap segala makhluk Nya. Baik ketentuan yang telah terjadi , yang sedang maupun yang akan terjadi. Karena itu, takdir Allah tidak terbatas kepada manusia saja, akan tetapi juga berlaku atas semua makhluk di alam semesta ini. 

Firman Allah swt. Yang artinya "Dan matahari berjalan di tempat peredaranya. Demikian ketetapan yang Maha perkasa lagi Maha Mengetahui."(QS. Yasin : 38). 

Firman Allah swt yang artinya : " ....dan Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya." (QS. Al Furqan : 2). 

Iman kepada Qada dan Qadar dengan cara meyakini, bahwa semua hal yang terjadi di alam ini telah ditetapkan oleh Allah. Selain itu, yakin pula bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini selalu berada di bawah kekuasaan dan ketentuan Allah swt. 

Takdir dibedakan menjadi dua macam : 
  1. Takdir mubram, yaitu ketentuan yang harus diterima oleh semua manusia, karena sudah pasti terjadi dan tidak dapat dielakan lagi. Contohnya : Tentang terjadinya hari kiamat, tentang jenis kelamin bayi yang akan lahir, tentang usia seseorang dan kematian yang akan ditemui seseorang tanpa bisa dihindari. Allah swt berfirman yang artinya " Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kedatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh..." (QS. An Nisa : 78). 
  2.  Takdir mu'allaq yaitu ketentuan yang mungkin dapat diubah manusia melalui usaha atau ikhtiarnya. Jika Allah mengizinkanya. Contohnya : - kepintaran dapat diusahakan dengan cara belajar yang giat dan rajin - kekayaan dapat diperoleh dari kerja keras - kesehatan dapat diusahakan dengan menjaga kebersihan. 

Dengan adanya takdir mu'allaq ini, manusia tidak boleh pasrah pada keadaan. Selain itu, manusia tidak boleh beranggapan bahwa segalanya adalah takdir Allah yang tidak dapat dirubah. Allah telah memberi anugerah kepada manusia berupa akal. Dengan akal tersebut manusia mampu berpikir dan dapat pul membandingkan serta memilih yang baik dan yang buruk , yang benar dan yang salah. Oleh karena itu , Allah menentukan takdir , sedangkan manusia diwajibkan berusaha atau berikhtiar untuk mencapai sesuatu yang diinginkan. 

Orang yang beriman harus yakin, bahwa segala peristiwa yang terjadi di alam ini dan semua nasib yang menimpa manusia, baik yang berupa keberuntungan maupun kesengsaraan menjadi ketentuan Allah swt. Perhatikan firman Allah swt. yang artinya "Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuz) sebelum Kami menciptakanya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (QS. Al Hadid : 22) 

Percaya pada qada dan qadar bukan berarti kita hanya pasrah dan berpangku tangan untuk menunggu takdir dari Allah. Namun dalam mencapai suatu tujuan dan cita-cita kitapun harus berusaha dengan giat, tekun dan kerja keras. 

B. Fungsi Iman kepada Qada dan Qadar 

Segala sesuatu yang terjadi pada manusia tidak dapat lepas dari adanya dua hal. Pertama, terjadinya sesuatu merupakan takdir dari Allah dan kedua berkat usaha atau ikhtiar manusia itu sendiri. Kemampuan manusia memang hanya sebatas berusaha saja, sedangkan ketentuan akhir adalah di tangan Allah swt. Oleh karena itu, usaha ada kalanya berhasil ada kalanya gagal. 

Semua umat islam yang mengimani qda dan qadar Allah jika telah berusaha dan berhasil tidak akan menjadikan dirinya lupa diri. Sifat lupa diri dapat menjadikan manusia sombong dan besar kepala. Karena merasa bahwa segala sesuatu yang dicapai itu semata-mata merupakan hasil jerih payahnya sendiri, tanpa mengingat akan kemurahan dan kenikmatan Allah swt. Namun sebaliknya, karena beriman kepada qada dan qadar ajan menambah rasa syukur, karena yakin bahwa keberhasilan itu merupakan karunia Allah melalui usahanya sendiri. 

Seorang tidak boleh capat putus asa jika usahanya gagal. Ia harus menerimanya dengan sabar, tabah, serta akan tetap berusaha lebih giat lagi. Oleh karena itu dalam hatinya harus tertanam prinsip dan keyakinan bahwa dalam mencapai suatu keinginan , seseorang harus berusaha, berdoa, dan tawakal, serta berserah diri kepada Allah setelah usahanya dirasa cukup. Firman Allah swt yang artinya : "...apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah..." (QS. Ali Imran : 159) 

Manfaat beriman kepada Qada dan Qadar, antara lain : 
  1. Mendorong seseorang untuk mau berusaha atau berikhtiar 
  2. Yakin dan sabar dalam menghadapi segala ketentuan Allah 
  3. Menjauhkan diri dari sifat sombong 
  4. Menumbuhkan jiwa tawakal kepada Allah swt 
  5. Tidak mudah berputus asa 
  6. Meyakini cobaan adalah ketentuan qada dan qadar Allah swt. 

Jika sikap orang yang beriman dalam menghadapi takdir Allah, hendaklah menerimanya dengan baik dan tidak merasa kecil hati. Sebab segala sesuatu itu terjadi atas wewenang dan kekuasaan Allah. Apabila manusia memperoleh takdir yang baik hendaklah bersyukur dan bila mengalami takdir yang kurang baik harus berusaha terus dan tidak putus asa. 

Takdir Allah itu tidak diketahui sebelum terjadi, oleh karena itu kita wajib berikhtiar untuk mencapai cita-cita yang diinginkan, kemudian disertai dengan tawakal kepada Allah. Dengan cara demikian kita akan merasa tenang dan tentram menunggu hasil yang diharapkan. Kemudian bila hasil yang diharapkan tidak baik atau mengalami musibah, maka tetap harus berusaha memperbaiki dengan bersabar dan tidak mudah putus asa. Dengan cara demikian kita akan selalu tabah dan sabar jika mengalami kegagalan. Sebaliknya akan bersyukur kepada Allah jika usahanya telah berhasil. Allah swt berfirman yang artinya : "(yaitu) orang- orang yang apabila ditimpa mushibah, mereka mengucapkan : "inna lillahi wa inna ilaihi raji 'un". (QS. Al Baqarah : 156). 

Apabila kita mengalami suatu musibah atau kesusahan maka hendaklah membiadakan diri bersabar dan bertawakal kroada Allah. Kemudian disunahkan membaca kalimat taji' yaitu : 

 "inna lillahi wa inna ilaihi raji 'un" 

 Artinya : "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada Nya lah kami kembali" 

Demikianlah sikap orang beriman dalam menghadapi takdir baik dan buruk yang harus diperbuat. Sehingga apapun yang terjadi tetap dalam keimanan kepada Allah dengan cara bersabar atau bersyukur.
Terima kasih sudah membaca Iman kepada Qada dan Qadar ,Silahkan bagikan artikel ini Iman kepada Qada dan Qadar jika bermanfaat, Barakallaahu fikum
Share on :
 
Comments
0 Comments

Posting Komentar

loading...
 
Support : About | Site Map | Privacy Policy | Disclaimer | Contact Us |
Copyright © 2013. artikelislamiku2.blogspot.com - All Rights Reserved
Di Design Ulang Oleh I Template Blog Published by I Template Blog
Proudly powered by Blogger